Semiloka Lampung : Antisipasi dan Solusi Konflik Sosial dalam rangka Ketahanan Nasional
31/05/2017
Semiloka Lampung : Antisipasi dan Solusi Konflik Sosial dalam rangka Ketahanan Nasional

Antisipasi dan Solusi Konflik Sosial Dalam Rangka Ketahanan Nasional”, demikian judul yang diambil dalam kegiatan Seminar Nasional dan Lokakarya kali ini, yang diselenggarakan atas kerjasama antara Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional dengan Universitas Lampung, di Ballroom Novotel Hotel Lampung pada tanggal 23 Mei 2017.  Acara ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Wantannas, Letnan Jenderal TNI Nugroho Widyotomo bersama Wakil Rektor I Univ. Lampung, Prof. Dr. Bujang Rachman, M.Si. Sebagai pembicara pada kegiatan ini Sekda Lampung Ir. Sutomo, MM, mewakili Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo yang pada saat ini berhalangan hadir.

Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Setjen Wantannas) bersama dengan Universitas Lampung (Unila) menyelenggarakan Seminar Nasional dan Lokakarya yang bertempat di Ballroom Novotel Hotel Lampung pada tanggal 23 Mei 2017. Semiloka yang membahas tentang “Antisipasi dan Solusi Konflik Sosial Dalam Rangka Ketahanan Nasional” ini, dibuka secara resmi oleh Sesjen Wantannas, Letnan Jenderal TNI Nugroho Widyotomo bersama Wakil Rektor I Univ. Lampung, Prof. Dr. Bujang Rachman, M.Si. Sebagai pembicara pada kegiatan ini Sekda Lampung Ir. Sutomo, MM, mewakili Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo yang pada saat ini berhalangan hadir.

Di awal sambutannya Sesjen terlebih dahulu memperkenalkan tentang Sekretariat Jenderal Wantannas yang merupakan lembaga yang dibentuk dan diketuai oleh Presiden dan mempunyai tugas pokok merumuskan rancangan kebijakan dan strategi nasional dalam rangka pembinaan ketahanan nasional untuk menjamin pencapaian tujuan dan kepentingan nasional Indonesia. 

Selajutnya Sesjen menyampaikan bahwa Provinsi Lampung merupakan miniatur Indonesia. Masyarakat yang tinggal di Provinsi Lampung sangat beragam dari aspek etnis, suku bangsa, budaya, dan agama. Struktur masyarakat lampung terdiri dari masyarakat asli dan masyarakat pendatang. Masyarakat asli Lampung merupakan masyarakat adat yang geneologis (garis keturunan berdasarkan ikatan darah) dan terdiri dari masyarakat adat Lampung Pepadun dan Saibatin. Sementara masyarakat pendatang berasal dari Jawa, Bali, Semendo Ogan (Sumatera Selatan), Sunda dan Banten. Masyarakat pendatang inilah yang menjadi dominan di Lampung. Menurut data BPS Tahun 2010 populasi penduduk Lampung yang 7 juta jiwa, 6 juta di antaranya adalah pendatang, hanya 1 juta jiwa yang merupakan penduduk asli lampung. Di antara 6 juta jiwa tersebut, 5 juta jiwa diantaranya adalah suku Jawa, 1 juta Jiwa sisanya adalah suku Bali, Ogan (Palembang), Banten (Jaseng), Sunda, Batak dan suku lainnya yang tinggal di provinsi ini.

Keragaman masyarakat Lampung senantiasa diupayakan untuk dijaga, dirawat, dilestarikan dan dimanfaatkan untuk pembangunan daerah menuju kesejahteraan masyarakatnya. Usaha tersebut tidak mudah, karena keragaman masyarakat Lampung telah menjadi pemicu konflik sosial yang terjadi di sepanjang tahun di Provinsi Sai Bumi Ruwa Jurai ini. Seluruh elemen masyarakat Lampung menghadapi berbagai ujian yang ditandai oleh rangkaian peristiwa konflik sosial di hampir sebagian besar daerah di Provinsi Lampung.

Dalam konteks konflik yang terjadi di Lampung bisa dilihat dari konteks ketahanan nasional, adalah bagaimanana keuletan dan ketangguhan masyarakat Lampung yang multikultural dan multietnis dalam menghadapi dan mengatasi tantangan, hambatan, ancaman dan gangguan yang mengancam integrasi dan kerukunan sosial di Lampung. Ketahanan nasional sendiri sebagai kondisi dinamis bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan bangsa guna menghadapi dan mengatasi tantangan, hambatan, ancaman dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri baik yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan hidup negara indonesia dalam mencapai tujuan nasional.

Dalam teori sosial, konflik adalah indikator perubahan. oleh karena itu, wajar adanya terjadi dalam suatu masyarakat, baik masyarakat yang homogen maupun pada masyarakat yang heterogen, seperti di Lampung.

Mengakhiri sambutannya Sesjen menyampaikan bahwa, Setjen Wantannas menerima tugas dari Presiden, yaitu pengelolaan dan penanganan masalah bela negara yang selama ini Leading nya adalah Kementerian Pertahanan. Hal ini dimaksudkan agar pembinaan bela negara secara nasional dapat lebih terintegrasi. Seluruh kegiatan bela negara yang dilakukan oleh seluruh Kementerian/Lembaga akan berada dibawah koordinasi Dewan Ketahanan Nasional, dalam hal ini pelaksanaannya oleh Setjen Wantannas.

Gubernur Lampung yang sedianya hadir untuk menjadi Keynote Speech, karena kegiatannya yang padat, diwakilkan ke Sekda Lampung Bapak Ir. Sutomo, M.M., begitu juga dengan Rektor Unila yang diwakikan ke Wakil Rektor I Bapak. Prof. Dr. Bujang Rachman, kegiatan Seminar Nasional dan Lokakarya kali ini dihadiri oleh Kapolda Lampung, Danrem 043/Garuda Hitam, Danbrigif-3 Mar, Danlanal Lampung, Danlanud Pangeran M. Bunyamin, Walikota Lampung, Para Sahli, dan Para Deputi di lingkungan Setjen Wantannas, serta seluruh civitas akademika Unila. 

Hadir sebagai penanggap daerah Bapak Dr. M. Afif Anshori, MA (Univ. Islam Raden Inten Bandar Lampung), Zulkarnaen Zubairi, S.Sos (Pemerhati Sosbud Lampung), Prof Dr. Iwan (Dekan Fak Pertanian Unila), Ari Dharma Siti (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unila), Yuri Isman  (Himpunan Mahasiswa ILmu Administrasi Negara), sedangkan penanggap pusat ada Bapak Prof. Dr. Endang Turmudi (LIPI) dan Drs. Edi Sudaryanto, M. Ikom (Untag).

 

Setjen Wantannas
Ketua Wantannas
Ir. H. Joko Widodo
Letjen TNI Nugroho Widyotomo
Sesjen Wantannas
Letjen TNI Nugroho Widyotomo
Statistik Pengunjung

  • Hari ini 131
  • Kemarin 166
  • Minggu 1717
  • Bulan 5327
  • Semua 65472
Saat ini ada 121 pengunjung website