Setjen Wantannas Hadiri Forum Koordinasi dan Konsultasi Kemenko Polhukam
08/03/2018
Setjen Wantannas Hadiri Forum Koordinasi dan Konsultasi Kemenko Polhukam

Setjen Wantanas, diwakili oleh Kepala Biro Persidangan, Sistem Informasi, dan Pengawasan Internal (Biro PSP) Brigjen TNI Isaac Marcus P menghadiri Forum Komunikasi dan Konsultasi (FKK) yang diinisasi oleh Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) RI. FKK yang bertajuk “Migrasi TV Analog ke TV Digital” tersebut dibuka oleh Menko Polhukam, Jenderal TNI (Purn) Wiranto.

Menko Polhukam mengungkapkan pentingnya perubahan dari televisi (TV) analog menjadi TV digital bagi kemajuan Indonesia dalam persaingan global. "Ini sesuatu yang memang sudah dibicarakan cukup lama di negeri ini dan bukan hanya di negeri kita tapi di seluruh dunia. Karena perubahan dari analog ke digital merupakan perubahan yang tidak terelakan, perubahan yang harus kita ikuti," jelas Menko Polhukam seusai membuka kegiatan FKK di hotel Crowne, Semarang, Kamis (8/3/2018).

Menurut Menko Polhukam, jika perubahan tersebut tidak dilakukan maka Indonesia akan tertinggal dari negara lain. Terlebih lagi, sudah ada kesepakatan internasional tentang perubahan dari Tv analog ke digital yang harus diselesaikan pada Juni 2015. "Sudah 85 persen negara-negara di dunia, yang tentunya memiliki televisi sudah mengubah dari analog ke digital. Kita belum, berarti kita ketinggalan, oleh karena itu perlu adanya tekad kita bersama untuk mempercepat perubahan ini, mempercepat muncul revisi undang-undang yang sekarang ada, UU penyiaran yang sekarang masih di godok di DPR," ungkapnya.

Menko Polhukam berharap agar perubahan tersebut segera diwujudkan supaya Indonesia dapat mempersiapkan diri dalam konteks lebih luas, sepeti persiangan global dengan negara-negara lain yang sudah terlebih dahulu melaksanakannya.

"Di mana cara-cara penyiaran dengan digital dapat mencangkup suatu kawasan yang lebih luas, dapat menjangkau seluruh daerah kita dengan mudah dan sebagainya. Secara teknis, saya kira itu sesuatu yang sangat menguntungkan karena dunia sudah menerima seperti itu. Tentunya kita tidak bisa menolak," ujar Menko Polhukam.

Namun menurut Menko Polhukam, apabila suatu perubahan terjadi pasti akan ada konsekuensi, resiko, untung dan rugi yang akan dialami. Untuk itu diperlukannya kesamaan pendapat antar pemerintah, stakeholder, dan pemangku kepentingan dalam menentukan alternatif terbaik yang nantinya diolah oleh DPR.

"Pada hari ini, saya minta semua stakeholder yang mempunyai peran dalam penyiaran kumpul di Semarang, bicarakan di sini, memberi masukan ke DPR, dan segera dapat diwujudkan perubahan ini. Kita bicarakan untung ruginya, kita bicarakan masa depan Indonesia, jangan sampai terlalu jauh ketinggalan kita dengan negara lain," jelasnya.

Fungsi sebuah handphone saat ini selain media telekomunikasi juga media untuk mengakses informasi seperti TV, radio, bioskop, surat kabar/media digital, sampai kepada toko online. Sementara itu UU yang sedang digodok adalah revisi UU penyiaran dimana salah satu konsepnya adalah menggabungkan TVRI dan RRI menjadi RTRI. Regulasi yang ada belum mewadahi semua revolusi teknologi yang sedang berjalan saat ini. Perppu dapat menjadi solusi namun tidak bisa menjamin segera terbit mengingat pada tahun ini mayoritas disibukan dengan kegiatan politik.

Pada kesempatan yang sama, Plt Deputi VII Kemenko Polhukam, Marsda TNI Suwandi Miharja menjelaskan FKK ini dimaksudkan untuk menginventarisasi permasalahan tentang revisi UU No. 32 tahun 2002 agar segera diundangkan.

"Dengan permasalahan itu, dibutuhkan pemecah masalah antara pemerintah, DPR, KPI, perusahan peyiaran radio dan televisi, praktisi penyiaran, serta organisasi media penyiaran untuk menyelesaikan revisi UU penyiaran tersebut," terang Marsda TNI Suwandi Miharja.

Setjen Wantannas
Ketua Wantannas
Ir. H. Joko Widodo
Letjen TNI Doni Monardo
Sesjen Wantannas
Letjen TNI Doni Monardo
Statistik Pengunjung

  • Hari ini 145
  • Kemarin 121
  • Minggu 602
  • Bulan 2826
  • Semua 115306
Saat ini ada 145 pengunjung website